ali sofyan kholimi at umm

Computer Science, Humanity and Religion Contemplation

4 Model Orang Ber-Muhammadiyah (Sebuah Otokritik)

January 16th, 2013 by kholimi

Oleh: Drs. M. Choirul Amin, MA.

Mengetahui apa Muhammadiyah dan siapa kiyai Dahlan bagi warga Muhammadiyah adalah bukan sesuatu yang sulit. Tetapi hal itu akan menjadi sulit dan kompleks ketika mereka (warga Muhammadiyah) ditanya apa motif sebenarnya seseorang ber-Muhammadiyah ? Sebagaimana isi wasiat sang pencerah : “ Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan didalamnya “.
Sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya penulis ketengahkan terlebih dahulu pengertian Motif. Dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Sosial” halaman 140 DR. W. A. Gerungan menyimpulkan bahwa ‘Motif itu merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Singkatnya semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan sedikitnya ada 4 motif (alasan) mengapa orang tertarik dan ingin menjadi anggota Muhammadiyah.

Motif pertama adalah ia ingin mencari penghidupan dengan jalan menginfakkan tenaga dan pikiran di perguruan – perguruan Muhammadiyah. Misalnya menjadi guru, dosen atau tenaga non pendidikan. Dengan demikian ia bisa melangsungkan hajat hidupnya tanpa terbebani oleh hal-hal lain di luar profesinya – pokoknya saya mengajar kemudian dapat upah titik – soal-soal lainnya itu urusan pengurus Muhammadiyah setempat. Dengan lain perkataan ia ber-Muhammadiyah ibarat numpang makan, minum dan tidur. Secara sosiopsikologis keterlibatannya ia ber-Muhammadiyah bermotif biogenetis.

Sedikitkah jumlah mereka ? Sangat banyak jumlahnya, saking banyaknya penulis tidak mampu menghitungnya. Kalau tidak percaya silahkan pembaca menghitung sendiri. Mudah-mudahan Anda sendiri tidak termasuk kelompok ini.

Motif yang kedua, orang tertarik Muhammdiyah dan ingin menjadi anggota bahkan rela menjadi pengurus, karena hal tersebut dianggap sebagai batu loncatan yang efektif guna menggapai sesuatu yang lebih baik. Setidaknya untuk menjaga image (citra diri) di masyarakat. Misalnya seorang mantan pejabat, tokoh masyarakat atau orang terpandang di komunitas tertentu, rasanya akan lebih dihormati manakala ia bergabung dan aktif di setiap kegiatan yang ada di ormas tersebut, bila perlu ia rela mengorbankan waktu dan hartanya, demi cita-citanya. Dengan demikian nama beliau akan mudah dikenal oleh masyarakat tidak terkecuali warga ormas itu sendiri. Dengan modal popularitas dan finansial yang dimilikinya bukan hal yang sulit baginya untuk menggunakan momen-momen itu dijadikan jembatan meraih keuntungan yang lebih besar, misalnya mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Dengan logika kaum pedagang pada umumnya pengorbanan yang ia keluarkan harus memperoleh ganti yaitu dukungan “suara” atas namanya. Bila ternyata ia terpilih menjadi anggota Dewan yang “terhormat” jelas kesejahteraan hidupnya terjamin. Namun sayang seiring berjalannya waktu terkadang sang anggota dewan terjebak oleh kesibukan dan mulai melupakan nama ormas dan anggotanya yang dulu pendukung setianya. Dengan kata lain motif anggota dewan tersebut dapat diibaratkan seperti numpang lewat artinya ia jadikan ormas sebagai kendaraan politik demi ambisinya. Secara sosiologis motif ber-Muhammadiyah orang tersebut termasuk bermotif sosiogenetis.

Jumlah kelompok yang kedua ini tidak terlalu banyak, tetapi dampak politis dan psikologisnya lebih dahsyat dibanding dengan kelompok yang pertama. Mengapa ?, Karena mereka ini tergolong elit dan mempunyai kekuasaan. Bila mereka tidak bisa menjalankan amanat rakyat yang diembannya bisa-bisa nama Persyarikatan menjadi rusak dan menyisakan rasa kecewa yang berkelanjutan.

Motif yang ketiga mengapa seseorang tertarik terhadap Muhammadiyah tanpa harus menjadi anggota resmi Muhammadiyah alias ia hanya sebagai anggota simpatisan. Keberadaannya di Muhammadiyah hanyalah pelengkap kalau tidak mau dibilang penggembira. Namun demikian kesungguhannya dalam mengikuti kegiatan Muhammadiyah tidak perlu diragukan : ia rajin ikut sholat berjama’ah, rela menjadi donatur tetap dan tidak keberatan bila diminta datang ke tempat-tempat pengajian, tetapi dia menolak untuk didaftar sebagai anggota resmi apalagi untuk dicalonkan menjadi pengurus. Baginya ia bergaul dan bergabung dengan warga Muhammadiyah bukan untuk mengejar popularitas atau yang lainnya. Keber-Muhammadiyahan-nya lebih didorong oleh rasa simpatiknya terhadap ormas tersebut. Karena menurutnya Muhammadiyah adalah satu dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia yang menaruh perhatian besar pada rakyat yang tidak berdaya baik secara ekonomis maupun edukatif. Jadi boleh dikatakan bahwa motif orang ini ber-Muhammadiyah bisa diibaratkan numpang Surga.

Banyakkah orang yang bermuhammadiyah model seperti ini? Jawabnya tentu banyak. Namun sulit dipastikan karena di samping mereka juga tidak ber-KTA mereka tidak mau tampil secara terang-terangan di muka umum alias ada di belakang layar.

Motif yang keempat mengapa orang tertarik dan ingin ber-Muhammadiyah karena ia yakin dengan ber-Muhammadiyah hidupnya tidak akan sia-sia dunia akherat. Baginya ber-Muhammadiyah itu harus berani berkorban tanpa disisipi oleh keinginan-keinginan lain. Ia benar-benar menginfakkan harta, tenaga dan waktunya serta pikiran demi tegaknya Syariat Allah (Islam) lewat ormas yang ia ikuti dan ia bersedia untuk dicalonkan menjadi pengurus inti bahkan Ketua Ormas tersebut ditempat ia tinggal tanpa reserve. Dalam bahasa agama ia ber-Muhammadiyah secara lilla hi ta’ala. Dengan kata lain motif ber-Muhammadiyah orang ini ibarat Titip Amal atau bahasa ilmiahnya bermotif teogenetis.

Banyak atau sedikitkah jumlah mereka? Amat sedikit, Saking sedikitnya penulis cukup mengangkat jari tangan kiri atau kanan, tidak lebih dari itu jumlahnya di setiap Ranting atau Cabang dimana Muhammadiyah berada.

Dari Keempat motif (alasan) di atas mana yang sesuai dengan wasiat Kiai Dahlan? Yaitu menghidup-hidupkan Muhammadiyah. Jawabnya sudah jelas yaitu kelompok yang keempat.

Posted in muhammadiyah | 1 Comment »

Tujuan Tugas Akhir

January 15th, 2013 by kholimi

Tujuan dari Tugas Akhir bukanlah menjadikan software hasil dari tugas akhir anda bisa mengatasi permasalahan 100%, akan tetapi:

  1. Mengembangkan kerangka berfikir yang kritis,
    Dengan  kerangka berfikir yang kritis, kita mencapai tujuan yang baru dengan cara yang sistematis  dan logis, serta kreatif dan mempunyai nilai beda yang unggul. Selain itu, kita bisa memecahkan masalah dengan cara yang sistematis.
  2. Meningkatkan kemampuan bekerja secara independent,
  3. Meningkatkan pemahaman cara menggunakan dan memahami metode ilmiah dalam menyelesaikan suatu masalah,
  4. Mengembangkan kemampuan menulis, berbicara, dan presentasi. Referensi: Thesis Project: A Guide for Students in Computer Science and Information System

Posted in computer sciences | No Comments »

Topik Tugas Akhir: Context-Aware System

January 14th, 2013 by kholimi

Sebenarnya kalau masalah judul di studi kasus mobile cukup banyak kalau mau cari. Saya sendiri, karena suka hal-hal yang berbau SEMANTIC, salah satu studi kasus yang saya sukai adalah tentang MOBILE CONTEXT AWARE SYSTEM.

Data-datanya bisa diambil dari posisi Mobile Device saat itu, semisal melalui Location Based Service dengan BTS atau GPS. Bisa juga datanya diambil berdasarkan gerakan Accelerometer. Atau bisa juga data-data dari aktivitas bulanan, mingguan, harian, dst.

Tertarik? Silahkan baca jurnal-jurnal ini dan yang berhubungan:

A survey of context-aware mobile computing research (2000)
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/summary?doi=10.1.1.117.4330

A Survey on Context-aware systems (2004)
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/summary?doi=10.1.1.58.9253

Context-aware systems: A literature review and classification (2009)
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/summary?doi=10.1.1.164.3897

Tertarik?
Silahkan merapat ke FB:
http://www.facebook.com/alisofyan.umm

Posted in computer sciences | No Comments »

« Previous Entries